Dalil-Dalil Syar’i Dalam Pembahasan Fiqhi
Dalil-Dalil Syar’i
Dalam Pembahasan Fiqhi
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’di rahimahullah berkata:
فَصْلٌ
[اَلْأَدِلَةُ الَّتِي يُسْتَمَدُ مِنْهَا الْفِقْهُ أَرْبَعَةٌ ]
الأدلة التي يُستمدُ منها الفقهُ أربعةٌ :
اَلْكِتَابُ ,والسُّنَّةُ ـ وَهُما الْأَصْلُ الَّذِي خُوْطِبَ بِهِ الْمُكَلَّفُوْنَ، وَانْبَنَى دِيْنُهُمْ عَلَيْهِ ـ وَالْإِجْماعُ وَالْقِياسُ
الصَّحِيْحُ ـ وَهُما مُسْتَنَدانِ إِلَى الْكِتابِ والسُّنَّةِ ـ .
فَالْفِقْهُ ـ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى آخِرِهِ ـ لاَ يَخْرُجُ عَنْ هَذِهِ الْأُصُوْلِ ألْأَرْبَعَةِ .
وَأَكْثَرُ الْأَحْكامِ الْمُهِمَّةِ تَجْتَمِعُ عَلَيْها الْأَدِلَّةُ الْأَرْبَعَةُ ـ تَدُلُّ عَلَيْها نُصُوْصُ الْكِتابِ والسُّنَّةِ، وَيُجْمَعُ
عَلَيْها العُلَماءُ، وَيَدُلُّ عَلَيْها الْقِياسُ الصَّحِيْحُ ـ لِما فِيْها مِنَ الْمَنافِعِ وَالْمَصالِحِ إنْ كانَتْ مَأْمُوْراً بِها، وَمِنَ الْمَضارِّ إنْ كانَتْ مَنْهِياً عَنْها .
وَالْقَلِيْلُ مِنَ الْأَحْكامِ يَتَنازَعُ فِيْها الْعُلَماءُ. وَأَقْرَبُهُمْ إِلَى الصَّوابِِ فِيْها, مَنْ أحْسَنَ رَدَّها إِلَى هَذِهِ الْأُصُوْلِ الْأَرْبَعَةِ
[Terjemah]
Fasal
[Dalil-Dalil Yang Fiqhi Dipetik Darinya Ada Empat]
Dalil-dalil yang fiqhi dipetik darinya ada empat:
Al-kitab, as-sunnah -dan keduanya merupakan asal dalam khithab (baca: hukum-hukum) yang ditujukan kepada para mukallaf dan yang agama mereka dibangun di atasnya-, ijma’, dan kias yang benar -dimana keduanya bersandar pada dalil al-kitab dan as-sunnah-.
Masalah fiqhi -dari awal sampai akhirnya- tidak ada yang keluar dari pokok-pokok (dalil) yang empat ini.
Dan kebanyakan hukum-hukum yang penting, mempunyai dalil dari keempat pokok ini -yakni ditunjukkan oleh nash-nash al-kitab dan as-sunnah, para ulama ijma’ terhadapnya, dan juga ditunjukkan oleh kias yang benar-, dikarenakan banyaknya manfaat dan maslahat yang terdapat di dalamnya -jika hukum itu berupa perintah- atau banyaknya mudharat di dalamnya -jika hukum itu berupa larangan-.
Sementara hanya sedikit hukum-hukum yang diperselisihkan oleh para ulama. Hanya saja yang paling dekat kepada kebenaran di antara mereka adalah siapa yang paling bagus caranya dalam mengembalikan setiap masalah kepada keempat dalil pokok ini.
[Syarh]
Fasal ini dibuat oleh Asy-Syaikh rahimahullah untuk menjelaskan secara global mengenai dalil-dalil dari hukum-hukum syar’i. Adapun penjelasannya secara lebih terperinci, maka akan beliau sebutkan satu persatu pada fasal-fasal berikutnya.
Ucapan beliau: [Dalil-dalil yang fiqhi dipetik darinya ada empat:]
Apa itu dalil?
Dalil secara bahasa adalah apa yang dijadikan sebagai petunjuk. Dan terkadang juga dimaknakan sebagai yang menunjukkan jalan.
Adapun secara istilah, Imam Al-Juwaini rahimahullah berkata, “Dan dalil adalah yang memberikan petunjuk menuju apa yang diinginkan.”
Ibnu Firkah rahimahullah mengomentari ucapan Al-Juwaini di atas, “Definisi dalil yang beliau sebutkan ini sejalan dengan pendapat para fuqaha. Hal itu karena mereka mendefinisikan dalil dengan apa saja yang memberikan petunjuk kepada apa yang dituju, baik penunjukannya itu secara qath’i (pasti) maupun secara zhanni (dugaan besar).”
Karenanya, dalil dalam fiqhi adalah semua perkara yang memberikan petunjuk untuk sampai kepada hukum syar’i dari sebuah amalan yang ingin diketahui.
Silakan berlangganan untuk mengetahui kelanjutan pembahasannya.
Tafadhdhal masukkan pertanyaan seputar artikel "Dalil-Dalil Syar’i Dalam Pembahasan Fiqhi"