Beriman Kepada Takdir
Beriman Kepada Takdir
Imam Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata pada point berikutnya:
وَالْقَدْرُ خَيْرُهُ وَشَرُّهُ مِنَ اللّهِ عَزَّ وَجَلَّ
[Terjemah]
Takdir baik dan yang buruk berasal dari Allah Azza wa Jalla.
[Syarh]
Beriman kepada takdir merupakan salah satu dari keimanan yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Selain karena dia termasuk dari rukun iman yang enam, beriman kepada takdir juga sangat dibutuhkan oleh setiap manusia -tanpa terkecuali- dalam mengarungi kehidupannya di dunia. Hal itu karena segala sesuatu amalan hamba di dunia ini termasuk dalam kategori takdir yang telah ditetapkan, sehingga baik tidaknya dia menjalani kehidupan dunianya, sangat ditentukan -setelah taufiq dari Allah- oleh sejauh mana dia memahami dan meyakini masalah takdir ini.
Dalil-Dalil Iman Kepada Takdir.
Sebelum kita melangkah lebih jauh, berikut kami sebutkan dalil-dalil dari Al-Qur`an dan sunnah yang menyinggung mengenai rukun iman yang keenam ini.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan takdir yang sudah tertentu.” (QS. Al-Hijr: 21)
Allah Ta’ala berfirman:
وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
“Dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan takdirnya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan: 2)
Allah Ta’ala juga berfirman:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ﴾
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdirnya.” (QS. Al-Qamar: 49)
Adapun dari As-Sunnah, maka hadits Jibril yang terkenal dari riwayat Umar bin Al-Khaththab dimana Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang iman:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Yaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, Kitab-KitaNya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim no. 9)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata , “Dalam hadits di atas terdapat penjelasan, bahwa iman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang enam. Maka barangsiapa yang tidak beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk, berarti ia telah meninggalkan dan mengingkari satu rukun agama. Kedudukan orang ini seperti yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:
أَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan kafir kepada sebagian yang lain?” (QS. Al Baqarah: 85)
Nabi shallallahu alaihi wasallam juga bersabda dalam hadits Jabir dan hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhum:
لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ
“Tidak beriman seorang hamba sampai dia beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk, dan sampai yakin bahwa apa yang (ditakdirkan) menimpanya niscaya tidak akan luput darinya, serta apa yang (ditakdirkan) luput darinya niscaya tidak akan menimpanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2070 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2439)
Silakan berlangganan untuk membaca kelanjutannya.
Tafadhdhal masukkan pertanyaan seputar artikel "Beriman Kepada Takdir"